Fbs Halal Atau Haram, Ini Penjelasannya

Fbs Halal Atau Haram, Ini Penjelasannya

Dalam buku Prof. Drs. Masjfuk Zuhdi yang berjudul MASAIL FIQHIYAH; Kapita Selecta Hukum Islam, ternyata syariat Islam membolehkan pertukaran mata uang (currency transaction).

Perdagangan valas terjadi untuk perdagangan internasional barang/komoditas antar negara. Perdagangan (impor/ekspor) ini tentunya membutuhkan alat pembayaran, uang, dan masing-masing negara memiliki aturannya masing-masing.

Yang berbeda satu sama lain pada penawaran dan permintaan antara negara-negara ini sebagai mata uang yang dibandingkan.

Perbandingan nilai mata uang antar negara dikumpulkan di bursa atau pasar internasional dan dihubungkan oleh kesepakatan bersama yang saling menguntungkan.

Valas Menurut Hukum Islam

Fbs Halal Atau Haram, Ini Penjelasannya
sumber: ajaib.com

Nilai mata uang suatu negara dan nilai mata uang negara lain akan berubah (berfluktuasi) setiap saat tergantung pada volume penawaran dan permintaan.

Adanya supply and demand inilah yang memicu terjadinya transaksi valuta asing. Satu-satunya hal yang nyata adalah pertukaran mata uang dengan nilai yang berbeda.

Transaksi valas mengikuti aturan hukum islam diantaranya:

  • Ada Ijab – Qobul, ada kesepakatan untuk memberi dan menerima. Penjual menyerahkan barang dan pembeli membayar tunai. Ijab-Gobulnya adalah lisan, tertulis dan utusan. Pembeli dan penjual berhak mengajukan dan menempuh jalur hukum (dewasa dan sehat akal).
  • Memenuhi Persyaratan Objek Penjualan, barang bersih (bukan najis), dapat digunakan, cocok untuk pengiriman, barang dan harga jelas, pemilik sendiri atau agennya memiliki izin pemilik, barang diterima sebagai gantinya. Jika demikian, maka produk ada di tangannya.
Baca Juga  Keunggulan Broker Agea Dibanding Broker Lain

Perlu ditambahkan pendapat Muhammad Isa, bahwa jual beli saham itu diperbolehkan dalam agama.
“Jangan kamu membeli ikan dalam air, karena sesungguhnya jual beli yang demikian itu mengandung penipuan”. (Hadis Ahmad bin Hambal dan Al Baihaqi dari Ibnu Mas’ud)

Pembelian dan penjualan barang yang tidak terletak di tempat transaksi hanya diperbolehkan jika perlu untuk menjelaskan sifat atau karakteristiknya.

Kemudian, jika barang tersebut sesuai dengan petunjuk penjual, maka jual beli tersebut sah. Namun jika tidak sesuai, pembeli berhak mendapatkan hiyar. Artinya, dia dapat melanjutkan atau membatalkan penjualan.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi riwayat Al Daraquthni dari Abu Hurairah: “Barang siapa yang membeli sesuatu yang ia tidak melihatnya, maka ia berhak khiyar jika ia telah melihatnya”.

Jual beli tanaman terendam seperti singkong, kentang dan bawang juga diperbolehkan jika diberikan contoh. Ini sulit atau hilang jika semua produk tanaman yang terkubur untuk dijual harus dibuang.

Ini mengikuti aturan hukum Islam: “Kesulitan itu menarik kemudahan”. Demikian pula, Anda hanya dapat membeli atau menjual makanan yang dikemas atau belum dibuka, seperti makanan kaleng dan LPG, jika memiliki label yang menjelaskan isinya.

Arti Forex

Forex berarti mata uang asing seperti dolar AS, pound sterling dan ringgit Malaysia. Ketika perdagangan internasional berlangsung antar negara, setiap negara membutuhkan devisa sebagai alat pembayaran luar negeri yang disebut valuta asing.

Misalnya, eksportir Indonesia menerima devisa dari hasil ekspornya, sedangkan importir Indonesia membutuhkan devisa untuk mengimpor dari luar negeri.

Baca Juga  Spot Trading Adalah? Dan Bedanya Dengan Margin Atau P2P Trading

Akibatnya, ada penawaran dan permintaan di pasar forex. Setiap negara memiliki hak untuk menetapkan nilai tukarnya sendiri (nilai tukar adalah rasio nilai mata uangnya terhadap mata uang asing) misalnya, $1 = Rp. 14000.

Namun, nilai tukar atau perbandingan nilai tukar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kekuatan ekonomi masing-masing negara. Nilai tukar dan perdagangan valuta asing terdaftar di bursa Forex.

Fatwa MUI Mengenai Trading Atau Valas

Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 28/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf)
Menimbang :

  • Bahwa dalam sejumlah kegiatan untuk memenuhi berbagai keperluan, seringkali diperlukan transaksi jual-beli mata uang (al-sharf), baik antar mata uang sejenis maupun antar mata uang berlainan jenis.
  • Bahwa dalam ‘urf tijari (tradisi perdagangan) transaksi jual beli mata uang dikenal beberapa bentuk transaksi yang status hukumnya dalam pandangan ajaran Islam berbeda antara satu bentuk dengan bentuk lain.
  • Bahwa agar kegiatan transaksi tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, DSN memandang perlu menetapkan

Fatwa tentang al-Sharf untuk dijadikan pedoman.cMengingat :

  1. “Firman Allah, QS. Al-Baqarah[2]:275: “…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”
  2. “Hadis nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id al-Khudri:Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan atas dasar kerelaan (antara kedua belah pihak)’ (HR. albaihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).
  3. “Hadis Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”.
  4. “Hadis Nabi riwayat Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad, dari Umar bin Khattab, Nabi s.a.w bersabda: “(Jual-beli) emas dengan perak adalah riba kecuali (dilakukan) secara tunai.”
  5. “Hadis Nabi riwayat Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri, Nabi s.a.w bersabda: Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagaian atas sebagian yang lain; dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan yang tunai.
  6. Hadis Nabi riwayat Muslim dari Bara’ bin ‘Azib dan Zaid bin Arqam : Rasulullah saw melarang menjual perak dengan emas secara piutang (tidak tunai). “Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”
  7. “Ijma. Ulama sepakat (ijma’) bahwa akad al-sharf disyariatkan dengan syarat-syarat tertentu
Baca Juga  Mengenal Forex FXTM Untuk Para Pemula
Pencarian Popular Fbs Halal Atau Haram ,Apakah Fbs Halal ,Apakah Fbs Membayar ,Apakah Fbs Terpercaya